Peletakan Batu Penjuru GPM Latta Jadi Simbol Toleransi di Ambon

banner 468x60

AMBON,OMN.COM : Peletakan batu penjuru Gedung Gereja Sementara Jemaat GPM Latta berlangsung penuh khidmat di Desa Latta, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Sabtu pagi. Ibadah yang dimulai pukul 07.30 WIT di Gedung Gereja Elohim itu dipimpin Ketua Klasis Pulau Ambon Timur, Pdt. James Elath, sebelum dilanjutkan dengan arak-arakan para pelayan gereja, panitia pembangunan, pemerintah desa, dan jemaat menuju lokasi pembangunan gereja sementara, Sabtu (23/05/2026).

Momentum tersebut tidak hanya menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan jemaat, tetapi juga menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama di Kota Ambon. Pekerjaan fondasi gereja yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 16.00 WIT melibatkan Jemaat GPM Latta, Jemaat Halong, Jemaat Lateri, Tim Pela Berbagi Kasih, hingga masyarakat Muslim Desa Latta yang dipimpin langsung Imam Besar Masjid An’Nur Latta.

Dalam khotbahnya yang diambil dari 1 Korintus 3:10-11,Pdt.James Elath menekankan bahwa seluruh pembangunan gereja harus berdiri di atas dasar iman kepada Yesus Kristus sebagai batu penjuru kehidupan umat. Menurutnya, pembangunan fisik gereja harus diiringi pembangunan iman, karakter, dan persatuan jemaat agar pelayanan tetap hidup dan menjadi berkat bagi sesama.

“Tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus. Jika Kristus menjadi dasar maka pelayanan dan pekerjaan jemaat akan tetap hidup, bergerak, dan menjadi kekuatan dalam pembangunan gereja ini,” kata Ketua Klasis Pulau Ambon Timur, Pdt.James Elath.

Sementara itu,Kepala Pemerintah Desa Latta, Hansje M. Totomutu, menilai keterlibatan masyarakat Muslim dalam pembangunan gereja menjadi contoh nyata kehidupan toleransi yang perlu dipertahankan di Maluku. Ia menegaskan bahwa kebersamaan antarumat beragama merupakan kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat.

“Kerja sama antara pemerintah desa, gereja, dan saudara Muslim di Desa Latta adalah contoh toleransi yang harus terus dijaga. Kehidupan saling mendukung antarumat beragama inilah yang menjadi kekuatan masyarakat Maluku,” katanya.

DiLokasi yang sama,Ketua Majelis Jemaat GPM Latta,Pdt. Y. Letelay, berharap seluruh unsur jemaat dan masyarakat tetap bersatu menopang pembangunan gereja sementara hingga selesai tepat waktu.

Selain ith Ketua Panitia Pembangunan, Dirk Soplanit, menjelaskan bahwa pembangunan gedung sementara dilakukan agar jemaat tetap memiliki tempat ibadah yang layak sebelum pembangunan Gedung Gereja Elohim yang baru dimulai. Bangunan gereja sementara tersebut memiliki ukuran panjang 17 meter dan lebar 15,60 meter serta ditargetkan selesai dalam tahun ini.(PMN-01)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *