AMBON,PMN.COM : Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Benhur G. Watubun, ST., SH., menegaskan bahwa peringatan 30 tahun Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) bukan sekadar mengenang sejarah kelam bangsa, melainkan menjadi momentum refleksi untuk memperkuat demokrasi, menjaga semangat reformasi, serta memperjuangkan hak-hak rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan Benhur Watubun usai mengikuti peringatan 30 Tahun Kudatuli yang diselenggarakan DPD PDI Perjuangan Maluku di Pattimura Park, Kota Ambon, Senin malam (27/7/2026).
Menurut Benhur, semangat perjuangan yang lahir dari peristiwa Kudatuli harus terus dihidupkan melalui kebersamaan dalam membangun daerah, sekaligus memastikan generasi muda memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkembang.
“Kita harus tetap ada dalam arakan-arakan kebersamaan membangun daerah, mencermati setiap situasi, dan kita berharap pemerintah juga memberi ruang kepada anak-anak muda kita,” kata Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Benhur G. Watubun.
Ia menilai pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama melalui pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda. Hal tersebut dinilai penting agar masyarakat Maluku mampu memanfaatkan peluang dari berbagai proyek strategis nasional yang akan hadir di daerah, termasuk pengembangan Blok Gas Abadi Masela.
“Supaya mereka bisa mengekspresikan diri, termasuk membuka lapangan kerja. Anak-anak muda kita harus lebih terampil melalui berbagai pelatihan untuk menyambut pembukaan lapangan kerja seperti Blok Gas Abadi Masela maupun proyek-proyek lainnya yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujar Benhur.
Namun demikian, Benhur mengkritisi kondisi saat ini yang menurutnya belum memberikan ruang yang memadai bagi pengembangan potensi generasi muda. Ia menilai kebijakan efisiensi anggaran berdampak pada terbatasnya pembangunan infrastruktur maupun program-program pemberdayaan masyarakat.
“Hari ini kita tidak berdaya karena ruang yang diberikan untuk ekspresi anak muda dalam bentuk kesiapan infrastruktur dan lain-lain saya lihat tidak ada.
Menurutnya itu terjadi karena adanya pemotongan dengan alasan efisiensi, tetapi efisiensi itu justru tidak memberi ruang seluas-luasnya bagi pemerintah untuk mengatasi setiap persoalan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Maluku,” tegasnya.
Menanggapi kondisi internal PDI Perjuangan pasca berbagai dinamika politik nasional, Benhur menegaskan bahwa seluruh kader partai akan tetap bangkit dan terus melakukan evaluasi untuk memperkuat perjuangan partai.
“Kami tetap bangkit. Saya kira kita harus mengevaluasi diri, melakukan setiap tindakan yang baik, dan terus berjuang mengembalikan hakikat penting dari reformasi itu,” katanya.
Benhur menegaskan bahwa nilai-nilai reformasi harus terus dijaga, termasuk pelaksanaan otonomi daerah, kebebasan berpendapat, serta perlindungan terhadap hak-hak warga negara.
“Otonomi daerah dan kebebasan berpendapat tidak boleh dikekang. Kami juga mengharapkan adanya sentuhan pemerintah untuk membuka lapangan kerja serta memberi ruang bagi setiap warga negara memperoleh haknya sebagai warga negara,” pungkas Benhur (PMN-01)








